Rutinitas Santri Salafiyah, Antara Istiqomah Dan Disiplin

November 16, 2009 at 4:20 am Leave a comment

Dari Abi Amr, dinamakan juga Amrah bin Sufyan bin Abdillah r.a. ia berkata: Saya telah berkata kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, katakan kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang saya tidak akan bertanya tentang itu kepada orang lain, selaian Engkau!” maka beliau saw bersabda: “Katakanlah, saya beriman kepada Allah; dan istiqomahlah (konsisten).” (HR Muslim).

Maka istiqomahlah (tetaplah pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersamamu.” (QS Hûd [11]: 112).

Hanya kerugianlah bagi orang-orang yang malas dalam berbuat, enggan melakukan hal yang semestinya ia kerjakan. Tidak hanya berdampak kegagalan bagi dirinya, namun tentu akan pula menghancurkan kredibilitasnya di masyarakat.

Sungguh beruntung bagi santri yang pernah mengenyam pendidikan dan mukim di pondok Salafiyah Kebonsari Pasuruan. Pesantren yang asal muasalnya dari sebuah surau sederhana yang didirikan oleh Kiyai Hasan Sanusi (mbah Slagah) sekitar pada tahun 1779 ini (lihat, http://salafiyah.org; Sejarah singkat), sekarang sudah mulai menunjukkan kualitas produksinya yg sangat bermutu di mata pemerintah Indonesia.

Baru lima tahun silam (2003) kiprah dan semangat santri Salafiyah dibuka untuk mengikuti berbagai perlombaan di luar pesantren, dengan mmencoba mengirimkan seorang delegasi (Imam Yahya, Malang) untuk mengikuti lomba karya tulis ilmiah se Jawa Timur, yang ahirnya menyabet juara harapan II (tolong dicek). Berangkat dari sini, semangat dan antusias para santri untuk ikut serta dalam berbagai perlombaan semakin berkobar. Hal itu terbukti dalam puncak acara MQKN (Musabaqoh Qiroatil Kutub Nasional) di Kalimantan Selatan. Di mana kedua delegasi (Nuriyah Fajriyah, Lumajang dan Nurul Laily, Pasuruan) pondok Salafiyah yang mewakili Jawa Timur, menyabet juara I (lihat, http://salafiyah.org; Salafiyah Sabet 2 Gelar Kejuaraan Nasional). Semua itu, tidak terlepas dari semangat mereka, kerja keras asatidzah dan kedisiplinan dan istiqomah yang diajarkan oleh pesantren Salafiyah. Mubaaarak Salafiyah…

Rutinitas Santri Salafiyah
Berdasarkan pengalaman penulis dalam “rihlah mubarakah”, dalam rangka mengahaturkan sebuah karya (nadhom Sullam Attaufiq) Almarhum Romo KH. Abd, Hamid (yarhamuhullah wa nafa’ana bihi wa bi’ulumih, amiin) sebagai hadiah untuk para pengasuh ke 41 pesantren Salaf di Jawa Timur dan Jawa Tengah, pondok Salafiyah Pasuruan ini punya beberapa kelebihan dibanding pondok-pondok lainnya. Pasalnya di pesantren Salafiyah ini, semua santri, selain mendapat pendidikan dan teori-teori ilmiah, mereka juga diajari prakteknya sekalian (teori praktis). Di samping itu, setiap kali datang amaliah puasa sunnat, seperti enam hari di bulan Syawal, Tarwiyah dan Arofah, puasa Rojab dan juga puasa setiap hari Senin dan Kamis, dewan Pengurus harian pondok menyebarkan pengumuman anjuran puasa-puasa sunnah tadi. Terang saja, mereka yg kebetulan lagi tidak puasa, jadi malu melihat teman-temannya pada puasa sunnat. Ahirnya termotivasi juga untuk berpuasa sunnah.

Pesantren yang didirikan oleh seorang tokoh kenamaan (mbah Slagah) ini, yang kemudian semakin terkenal harum citranya setelah diasuh oleh Romo KH. Abd, Hamid (yarhamuhullah wa nafa’ana bihi wa bi’ulumih, amiin), hingga terkenal sebagai pondok Kiyai hamid, telah ditata rapi semua aktivitas pendidikan dan ubudiyahnya oleh para sesepuh pendahulunya. Mulai dari jam belajar di kelas, muroja’ah (muthola’ah malam), jam shalat, jam makan, dan jam keluar, bahkan sampai jenis pakaian pun ada anjuran tertentu.
Mereka, para santri jam 3 istiwa’ sudah dibangunkan oleh pengurus untuk melakukan qiyamullail. Kemudian dilanjutkan shalat Subuh berjamaah, yang diimami langsung oleh salah satu pengasuh pondok setelah membaca, yaa hayyu yaa qayyuum, laa ilaha illa anta …40x, laa ilaaha illallahu al malikul haqqul mubin … 100x dan subhanallah wa bihamdihi subhanallahil ‘adhim 100x. Setelah itu, salah satu Nadhir (Pengasuh) dan Asatidz pondok secara bergantian (sesuai jadwal) memberikan pengajian umum di musholla pondok, baru kemudian santri bisa kembali lagi ke kamar masing-masing untuk melakukan aktivitas pribadinya.
Sejam kemudian (7.30), mereka harus naik ke lantai atas untuk mengikuti kegiatan belajar wajib di kelas sampai waktu dhuhur tiba. Setelah itu, mereka diwajibkan juga untuk qoilulah (tidur siang sejenak), yang bertujuan agar para santri mudah bangun malam nantinya (menurut pendapat sebagian Asatidz senior Salafiyah).

Setelah kurang lebih satu jam, para santri harus bangun untuk mengikuti shalat jama’ah Dhuhur, yang dikerjakan tepat pada jam 2 istiwa’ dan diimami oleh imam tetap (karena telah dibaiat Romo KH. Abd. Hamid dalam hal ini), ustadz H. Asfihani Faqih.
Habis jama’ah dhuhur, ada juga pendidikan extra, berupa pengajian-pengajian kitab kuning yang dibacakan oleh pengurus atau santri-santri senior dan beberapa kursus (kaligrafi, bahasa Arab, computer dll) yang dihandel oleh pengurus OSMAS. Kurang lebih kegiatan tersebut mengambil waktu 45 menit baru selesai (+ jam 3.15 sore).

Pukul 4.45 istiwa’, semua santri harus sudah standby di musholla untuk mengikuti jamaah Ashar yang dikerjakan tepat pukul 5 istiwa. Kemudian disambung dengan kegiatan rohah dengan membaca kitab Riyadush Sholihin (tabarrukan) secara bergilir antara santri, yang dipimpin langsung oleh Pengasuh. Hingga waktu Maghrib datang baru selesai, dan kemudian dilanjutkan dengan shalat Maghrib berjamaah.
Habis shalat, santri senior tidak boleh beranjak dari mushollah, karena harus mengikuti kegiatan baca Ratibul Haddad berjamaah. Sedangkan santri-santri yunior diharuskan mengikuti kegiatan pendidikan baca Alqur’an yg benar (Qiraati, sebagai buku panduannya) hingga adzan isya’ terdengar. Kegiatan dilanjutkan dengan berjamaah isya’ di mushollah dan terkadang habis shalat Isya’ masih ada kegiatan extra juga.

Begitu waktu menunjukkan pukul 9 malam, semua santri diwajibkan keluar dari kamar masing-masing untuk muthola’ah sampai jam 10. Kemudian mereka diberi waktu bebas sekitar setengah jam (10.30). Tepat jam 11 malam, semua lampu kamar harusn dimatikan. Tidak boleh ada aktivitas apapun di atas jam 11 malam di dalam pondok, kecuali mereka yang kebagian tugas ronda malam.

Subhanallah ….. betapa Salafiyah memiliki suatu aturan yang menurut penulis, sulit ditemukan di pesantren lainnya. Suatu nidham yang mampu mendidik generasi muda untuk bisa hidup disiplin dan continue dalam kebaikan. Suatu nidham yang sangat dibutuhkan oleh anak bangsa Indonesia untuk mencetak generasi yg ber IPTEK dan IMTAQ tinggi.

Bukan hanya itu saja, dewan pengurus juga melarang para santri untuk mengerjakan sesuatu yang membahayakan, seperti merokok, nonton bioskop, nonton orkes, dan nonton tv juga dilarang. Demikian itu demi menjaga kemaslahatan keuangan para santri yg telah dijatah bulanannya oleh orang tua masing-masing dan agar mereka bisa focus pada belajar. Sementara untuk mengakses informasi dan berita, bagi mereka disediakan Mading (majalah dinding) dan Kording (Koran dinding).

Pentingnya Disiplin dan Istiqomah

Kalau dicermati secara detail apa yang telah ditetapkan dan diprakterakkan oleh Salafiyah di atas, akan ditemukan betapa sangat besar sekali pendidikan dan pengajaran tentang disiplin dan istiqomah yang dapat dijadikan teladan bagi kehidupan sehari-sehari, baik di masyarakat umum, dalam keluarga, di kantor, di masjid dsb.

Disiplin merupakan hal yang sangat penting, terutama bagi orang-orang yang ingin mencapai suatu cita-cita. Orang yang terbiasa disiplin akan mempunyai program harian dan aturan, dan dia berkomitmen terhadap program yang telah dia buat tersebut. Jika belum terbiasa, tentu disiplin ini akan terasa berat, karena itulah disiplin ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, melainkan butuh proses yang cukup panjang serta perjuangan yang gigih, terlebih lagi dalam menanamkan sikap disiplin pada anak, seperti disiplin dalam meraih cita-cita, disiplin dalam ibadah, disiplin dalam belajar maupun disiplin dalam amalan sehari-hari.
Disiplin dalam meraih cita-cita dicontohkan, seorang ibu yang menginginkan anaknya hapal juz amma. Untuk mencapai hal tersebut, sang ibu harus menjadi ibu yang disiplin. Anak tidak bisa sekaligus hapal juz amma. Disinilah dibutuhkan ketelatenan seorang ibu untuk mengajarkan dan mengontrol hapalan anak setiap saat, bahkan mungkin ibu juga harus ikut menghapalkan quran bersama anak.

Disiplin dalam ibadah, misalnya sebelum adzan anak-anak sudah disiapkan untuk sholat, ketika adzan anak-anak tidak lagi menonton TV, antara maghrib sampai isya tidak ada kegiatan selain tilawah bersama orang tua.

Disiplin dalam belajar bisa dicontohkan, seorang ibu meskipun sudah tidak belajar or kuliah lagi, tetaplah ditunjukkan kepada anak-anak bahwa ibunya masih rajin belajar, banyak membaca untuk menambah wawasan, sehingga anak-anak pun akan mengikuti ibunya.

Disiplin dalam kegiatan sehari-hari, misalnya sebelum tidur anak harus menggosok gigi dan membaca doa. Meskipun terkadang ibu sedang kecapaian, ibu harus memaksakan diri untuk mengantar anak menggosok giginya. Jadi untuk mendisiplinkan anak, orang tua pun harus disiplin. Begitu juga kedisiplinan murid, harus dicontohkan oleh sang guru. Adapun beberapa kiat untuk menjadikan anak disiplin adalah ilmu, keteladanan, kesungguhan dan ketelatenan.

Namun jika anaknya hiperaktif, yang efektif adalah seorang ibu harus tenang dan tidak panik, dibutuh kesabaran dan ketelatenan yang lebih dibandingkan menghadapi anak normal. Menangani anak hiperaktif membutuhkan bantuan orang lain yang paham, misalnya psikolog atau sekolah yang khusus menangani anak hiperaktif. Dengan terus memohon pada Allah dan juga menambah wawasan dengan membaca berbagai buku tentang anak hiperaktif, insyaAllah seorang ibu dapat menanganinya. Dan yang paling penting, ibu tidak boleh membentak anak tetapi memberikan pemahaman yang bisa dimengerti oleh mereka.

Dari anak hiperaktif beralih ke anak melankolik atau cengeng. Dalam menghadapi anak yang melankolik ini, yang utama adalah jangan pernah mengatakan bahwa dia melankolik atau cengeng. Hal itu hanya akan membuat anak itu menjadi semakin melankolik. Pendekatannya harus halus, bijaksana dan tepat, tidak boleh dikerasi. Yang terakhir, bisa dengan memberikan ungkapkan kata-kata positif yang dapat membuatnya kuat dan semangat. Masih banyak contoh2 lainnya.

Adapun istiqâmah adalah berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata Istiqâmah dari kata “qaama” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, Istiqâmah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Istiqâmah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

Secara terminologi, istiqâmah bisa diartikan dengan beberapa pengertian berikut ini;

  1. Abu Bakar As-Shiddiq ra ketika ditanya tentang Istiqâmah ia menjawab bahwa Istiqâmah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapapun).
  2. Umar bin Khattab ra berkata, “Istiqâmah adalah komitmen terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu”.
  3. Utsman bin Affan ra berkata, “Istiqâmah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah Taala”.
  4. Ali bin Abu Thalib ra berkata, “Istiqâmah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”.
  5. Mujahid berkata, “Istiqâmah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah Taala”.
  6. Ibnu Taimiyah berkata, “Mereka berIstiqâmah dalam mencintai dan beribadah kepada-Nya tanpa menoleh kiri kanan”.

Jadi muslim yang berIstiqâmah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan akidahnya dalam situasi dan kondisi apapun. Ia bak batu karang yang tegar menghadapi gempuran ombak-ombak yang datang silih berganti. Ia tidak mudah loyo dalam menjalankan perintah agama. Ia senantiasa sabar dalam menghadapi seluruh godaan. Itulah manusia muslim yang sesungguhnya, selalu Istiqâmah dalam sepanjang jalan.

Istiqâmah sendiri dibagi menjadi beberapa macam, antara lain:
1.      Istiqâmah dalam Aqidah
dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa”. (QS Al-An’am: 153).

2.      Istiqâmah dalam Syar’iah
“Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”.(QS Al-Jaatsiyah: 18)

3.  Istiqâmah dalam Perjuangan
“Maka boleh jadi kamu hendak meniggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karea khawatir bahwa mereka akan mengatakan: mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datnag bersama-sama dengan dia seorang malaikat? Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu” (QS Huud: 12).

Dalam Alquran dan Sunnah Rasulullah saw banyak sekali ayat dan hadits yang berkaitan dengan masalah Istiqâmah, di antaranya adalah:

Maka tetaplah (Istiqâmahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS 11:112).

Ayat ini mengisyaratkan kepada kita bahwa Rasulullah dan orang-orang yang bertaubat bersamanya harus beristiqomah sebagaimana yang telah diperintahkan.
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap Istiqâmah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan” (QS 46:13-14).
Ayat dan hadits di atas menggambarkan urgensi Istiqâmah setelah beriman dan pahala besar yang dijanjikan Allah SWT seperti hilangnya rasa takut, sirnanya kesedihan dan surga bagi hamba-hamba Allah yang senantiasa memperjuangkan nilai-nilai keimanan dalam setiap kondisi atau situasi apapun.

Hal ini juga dikuatkan beberapa hadits nabi yang artinya: “Aku berkata, “Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku satu perkataan dalam Islam yang aku tidak akan bertanya kepada seorang pun selain engkau. Beliau bersabda, “Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah, kemudian berIstiqâmahlah (jangan menyimpang).” (HR Muslim dari Sufyan bin Abdullah)

Adapun faktor-faktor yang melahirkan istiqâmah sebagaimana yang dikatakan Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (691 – 751 H) dalam kitabnya “Madaarijus Salikiin” . Beliau menjelaskan bahwa ada enam faktor yang mampu melahirkan istiqomah dalam jiwa seseorang sebagaimana berikut:
1.      Beramal dan melakukan optimalisasi
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong” (QS 22:78).

2.      Berlaku moderat antara tindakan melampui batas dan menyia-nyiakan
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS 25:67).
Dari Abdullah bin Amru, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setiap amal memiliki puncaknya dan setiap puncak pasti mengalami kefuturan (keloyoan). Maka barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) kepada sunnahku, maka ia beruntung dan barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) kepada selain itu, maka berarti ia telah celaka”(HR Imam Ahmad dari sahabat Anshar)

3.      Tidak melampui batas yang telah digariskan ilmu pengetahuannya
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawaban” (QS 17:36).

4. Tidak menyandarkan pada faktor kontemporal, melainkan bersandar pada sesuatu yang jelas.

5. Ikhlas
“Padahal mereka tidak disuruh, melainkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS 98:5).

6. Mengikuti Sunnah
Telah aku tinggalkan bagi kamu dua perkara, kamu tidak akan sesat selamanya selagi berpegang tegung dengannya yaitu Al-Qur’an dan sunnah para nabinya”(HR Imam Malik dalam Muwatta’).

Sedangkan dampak positif  istiqomah dalam kehidupan, antara lain:
1.      Syaja’ah (Keberanian)
Muslim yang selalu istiqomah dalam hidupnya ia akan memiliki keberanian yang luar biasa. Ia tidak akan gentar menghadapi segala rintangan dalam kehidupanya. Ia tidak akan pernah menjadi seorang pengecut dan pengkhianat dalam hutan belantara perjuangan. Selain itu juga berbeda dengan orang yang di dalam hatinya ada penyakit nifaq yang senantiasa menimbulkan kegamangan dalam melangkah dan kekuatiran serta ketakutan dalam menghadapi rintangan-rintangan. Perhatikan firman Allah Taala dalam surat Al-Maidah ayat 52 di bawah ini;
“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”

2.      Ithmi’nan (ketenangan).
Keimanan seorang muslim yang telah sampai pada tangga kesempurnaan akan melahirkan tsabat dan istiqomah dalam medan perjuangan. Tsabat dan istiqomah sendiri akan melahirkan ketenangan, kedamaian dan kebahagian. Meskipun ia melalui rintangan yang panjang, melewati jalan terjal kehidupan dan menapak tilas lika-liku belantara hutan perjuangan. Karena ia yakin bahwa inilah jalan yang pernah ditempuh oleh hamba-hamba Allah yang agung yaitu para Nabi, Rasul, generasi terbaik setelahnya dan generasi yang bertekad membawa obor estafet dakwahnya.
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram” (QS 13:28).

3.      Tafa’ul (optimis)
Ke-istiqâmahan yang dimiliki seorang muslim juga melahirkan sikap optimis. Ia jauh dari sikap pesimis dalam menjalani dan mengarungi lautan kehidupan. Ia senantiasa tidak pernah merasa lelah dan gelisah yang akhirnya melahirkan frustasi dalam menjalani kehidupannya. Keloyoan yang mencoba mengusik jiwa, kegalauan yang ingin mencabik jiwa mutmainnahnya dan kegelisahan yang menghantui benaknya akan terobati dengan keyakinannya kepada kehendak dan putusan-putusan ilahiah. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh beberapa ayat di bawah ini;
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS 57:22-23)

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS 12: 87).
Ibrahim berkata, “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat” (QS 15:56).

Maka dengan tiga buah Istiqâmah ini, seorang muslim akan selalu mendapatkan kemenangan dan merasakan kebahagiaan, baik yang ada di dunia maupun yang dijanjikan nanti di akherat kelak. Perhatikan ayat di bawah ini;
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan“Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS 41:30-32).

Entry filed under: serba-serbi. Tags: .

Sosok KH. Abdul Hamid Pasuruan Menyibak Rahasia Gerakan Shalat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

November 2009
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts


%d bloggers like this: