Baitul Maqdis Di Masa Khalifah Umar

May 1, 2009 at 6:06 am Leave a comment

maqdisDengan gigih khalifah Umar bin Khattab dan pengikutnya akhirnya bisa membebaskan kembali Baitul Maqdis dari cengraman musuh. Disaat memasukinya beliau berwasiat kepada pasukanya agar tidak menebang pohon, mengotori sungai, mencemari mata air, membunuh anak anak, wanita, orang tua, dan orang orang lemah. Selain itu beliau berwasiat dengan tegas kepada pasukanya agar tidak menghacurkan gereja dan sinagog. Itulah pesan Umar ra kepada pasukannya saat saat memasuki Baitul Maqdis (Palestina). 
 
Saat memasuki Baitul Maqdis, Sayyidina Umar ra dan pasukannya disambut hangat oleh penduduk setempat. Tua muda, besar kecil, laki perempuan di bawah pimpinan pendeta Nasrani semua keluar menyabut beliau. Keduanya kemudian berjalan keliling kota. Mereka menyaksikan secara langsung bagaimana tentara islam menghormati dan menjaga rumah-rumah ibadah yang ada di tempat itu. Tidak ada satupun gereja atau sinagog rusak atau dihancurkan. Semuanya terpelihara sesuai dengan wasiat Sayyidina Umar ra.

 

Setibanya di gereja Al-Qiyamah tibalah waktu sholat. Lalu Sayyidina Umar berkata kepada pendeta “Maaf, saya ingin melaksakan sholat”. Sang pendeta terharu dan menjawab “Silahkan tuan shalat di tempat mana saja tuan inginkan. Kebetulan pada saat itu beliau berada di dalam gereja. Demi untuk menjaga kesalahfahaman di antara kaum muslimin, maka beliau meminta izin keluar dari gereja lalu sholat di dekat pintu masuk gereja. Hal ini beliau lakukan agar umat islam tidak menyalahgunakan gereja sebagai masjid.
 
Pada saat keberadaan Sayyidina Umar ra di Baitul Maqdis, beliau tidak menyiakan waktunya. Beliau mencari tempat untuk mendirikan masjid yang tidak berjauhan dengan masjid Al-Aqsha’. Masjid itu diberi nama Al-Shakhrah dan memerintahkan umat islam untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid itu. Kaum Nasrani di Palestina pun diberikan perlindungan dan jaminan kebebasan beragama. Sayyidina Umar ra menyadari bahwa baitul Maqdis merupakan kota “tiga agama”.

Kisah diatas patut dijadikan renungan, bahwa Islam adalah agama penuh toleransi, agama teladan dan qudwah. Dan toleransi ini bisa diterapkan karena adanya keteladanan dari pemimpin yang bijak, terbuka dan rendah hati. Meskipun dalam posisi kuat dan menang tapi Sayyidina Umar ra dan tentaranya tidak bertindak berutal, melampaui batas, dan semena mena. Hal ini beliau lakukan sedemikian rupa agar tidak terjadi pertumpahan darah antara kaum muslimin dan penduduk setempat. contoh semacam inilah yang patut ditiru agar kita senantiasa bermuamalat baik, mendewasakan sikap dan suluk dengan penganut agama lain apalagi dengan sesame muslim, bukan menampilkan ego, merasa benar sendiri, gampang disundut dan cepat emosi.(hsw)Dikutip oleh SuaraMedia.Com

Entry filed under: sejarah. Tags: .

Shalahuddin Al Ayyubi, Legenda Dari Ratusan Pertempuran Mengenal lebih dekat dengan pendiri Nahdlatul Ulama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

May 2009
M T W T F S S
« Apr   Oct »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Most Recent Posts


%d bloggers like this: